Cari

Monday, 19 September 2016

AKU INGIN SEKOLAH



            Suara lantunan merdu sang Muadzin membangunkanku setelah tidur lelap panjangku. Petualangan mimpiku berakhir seketika setelah Ia memanggil. Segera saja aku bangkit dari ranjang dan merapikan kamarku yang terlihat sedikit berantakan. Setelah semua selesai, aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selanjutnya aku bergegas menuju ke masjid di dekat rumah. Rupanya bapak dan ibuku telah menunggu di depan pintu. Bahagianya diriku bisa terlahir di keluarga luar biasa ini.
            “Cepat, nak. Sudah hampir dimulai sholat jama’ahnya. Nanti kita ketinggalan.” Ajak Ibu.
            “Iya, bu, sebentar.” Jawabku sambil sedikit berlari.
            Kemudian kita berangkat bersama-sama menuju ke masjid. Sesampainya disana, rupanya telah banyak orang-orang yang telah bersiap menunaikan ibadah sholat subuh. Segera saja ibu dan aku mengambil tempat. Tak lama kemudian sholat pun dimulai.
            Setelah sholat selesai, kami segera pulang ke rumah. Tak seperti anak-anak lain yang sibuk menyiapkan diri untuk sekolah, aku justru mempersiapkan diri untuk membantu ayah dan ibu. Ya. Aku memang tidak sekolah. Bukannya aku belum cukup umur, tapi biaya yang menghalangiku untuk mengenyam bangku pendidikan. Orang tuaku tak mampu untuk menyekolahkanku. Jadi apa boleh buat. Aku harus menunda keinginanku untuk bersekolah demi melanjutkan kehidupanku yang masih panjang.
            Sebelum matahari menebar senyum kepada seluruh dunia, kami telah berangkat mencari peruntungan. Tak ada sarapan untuk hari ini. Kami sudah terbiasa tidak makan pagi, karena memang tak ada yang bisa dimakan. Sebelum kami berhasil mengumpulkan barang-barang bekas dan di jual ke pengepul, kami belum bisa makan. Makanya kami harus bersusah payah dulu kalau mau mendapat sesuap nasi dan melanjutkan hidup hari ini.
            Kali ini kami harus berpencar untuk mencari rongsokan. Bapak menyusuri jalanan dekat kota. Ibu berkeliling kompleks dekat perumahan. Sedangkan aku sendiri harus mencari barang bekas di sekitar SD Harapan Makmur. Sebenarnya aku lebih memilih di dekat jalan raya saja daripada harus kesana. Aku malu dengan anak-anak yang bersekolah disana. Aku juga ingin seperti mereka.
            Setelah berjalan sekitar lima belas menit, aku pun tiba di tempat tujuan. Sempat rasa malu itu muncul kembali setelah beberapa siswa mengejekku. Mereka menyebutku sebagai anak pemulung.
            “Heii...... Kamu ngapain kesini. Pergi sana. Bau tahu.” Ejek salah seorang siswa.
            “Iya. Kamu pergi deh jauh-jauh. Kalo melihat kamu aku jadi enek. Pengen muntah.” Tambah teman siswa tadi.
            Aku hanya diam mendengarkan ejekan mereka. Tiba-tiba saja datang lagi seorang siswa. Namun tampaknya kali ini ia memiliki pemikiran yang bertentangan dengan kedua anak yang tadi. Meskipun begitu aku sempat merasa khawatir dan takut terhadapnya. Ia tampak begitu marah. Mukanya berubah seketika menjadi memerah. Entah ia tak suka dengan keberadaanku atau ia marah dengan kedua anak itu. Aku belum bisa menebak dan memastikannya. Hingga akhirnya ia melontarkan beberapa kata.
            “Heii... Pergi! Jangan ganggu dia.” Kata anak itu.
            “I...i...i...iya, kak. Maaf. Kami pergi deh.” Jawab kedua anak tadi sambil gemeteran dan kemudian lari terbirit-terbirit.
            “Kamu gak apa-apa kan?” tanya anak itu.
            Aku sempat terdiam cukup lama. Aku terpaku dan membisu melihatnya. Ia memang tampan dan menawan. Aku seperti sedang ada dalam mimpi. Seorang pangeran menyelamatkan sang putri dari penjahat. Haha... Aku menghayal.
            “Hello.. Kamu baik-baik aja kan?” tanyanya lagi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku.
            “E.... e... Iya. Aku gak apa-apa kok. Makasih ya udah nolongin aku.” Jawabku setelah tersadar dari khayalan gila itu.
            “O ya.. Kenalin aku Riko. Nama kamu siapa?” tanya anak itu sambil menjulurkan tangannya kepadaku.
            “Emmmb... namaku... Si..” jawabku malu-malu.
            Teng...Teng...Teng... Tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan memotong pembicaraanku. Ia segera berlari menuju kelasnya dan meninggalkanku disini sendirian.
            “Maaf ya. Aku masuk kelas dulu. Sampai ketemu lagi.” Teriak Riko sambil berlari.
            Gara-gara anak-anak itu aku jadi lupa mau ngapain. Setelah kepergian Riko yang menawan itu, aku pun segera melanjutkan pekerjaanku. Aku mengorek-orek tempat sampah yang ada disekitar sekolah itu. Apa pun barang bekas yang masih bisa dijual, semua ku angkut dengan keranjang yang ku gendong di punggungku.
            Tak terasa semua tempat sampah telah ku kunjungi dan kuambil sebagian dari isinya. Terasa lelah mulai melandaku. Mungkin karena aku belum sarapan tadi pagi. Rasanya perutku mulai meronta-ronta menginginkan sesuatu untuk mengisinya. Akhirnya aku pun mencari tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak.
            Sambil istirahat, aku secara tidak langsung memperhatikan anak-anak yang sedang di ajar oleh gurunya di kelas mereka masing-masing. Sepertinya mereka begitu bersemangat dalam menerima pelajaran. Mereka selalu memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di sampaikan oleh gurunya.
            Tiba-tiba saja air mataku menetes membasahi pipiku. Kapan ya aku bisa sekolah seperti mereka? Apa aku bisa dengan keadaanku seperti ini? Begitulah kiranya apa yang ada dalam benak dan fikiranku selama ini. Ketika aku sedang meratapi nasibku, tiba-tiba aku dikagetkan dengan juluran tangan beserta tisu yang berada dalam genggamannya. Sontak aku pun menoleh ke belakang sambil secara spontan kedua tanganku mengusap air mata yang membasahi pipiku.
            “Eh..Kamu Riko. Kok kamu bisa ada disini?” tanyaku.
            “Iya, tadi kan aku mau pulang. Trus aku ngelihat kamu sendirian disini. Jadi aku kesini deh. Kamu kenapa nangis?” kata Riko.
            “Ohhh... Aku gak apa-apa kok. Cuma iri aja melihat mereka bisa sekolah. Sementara aku kan gak bisa sekolah. Jadi aku terbawa suasana.” Jelasku.
            “Emmb... Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Tadi kan belum sempat terjawab.” Tanya Riko.
            “Namaku Siti, kak.” Jawabku.
            “Riko? Ayo pulang! Udah mau hujan nih.” Panggil seseorang dari dalam mobil.
            “Iya, sebentar, pa.” Jawab Riko.
            “Eeee... Aku pulang dulu ya. Papaku udah manggil. Sampai jumpa.” Pamit Riko.
            “Iya. Sampai jumpa.” Jawabku.
            Karena langit sudah mulai gelap, aku pun segera pulang menuju ke rumah dengan sisa-sisa tenagaku. Beberapa saat kemudian aku tiba di rumah. Rupanya bapak dan ibu telah ada di rumah sedang menungguku untuk makan bersama.
            “Kamu kemana saja, nak? Ibu tunggu dari tadi kok gak pulang-pulang.” Tanya ibu.
            “Maaf, bu. Tadi aku masih istirahat. Jadi agak telat pulangnya.” Jawabku.
            “Ya sudah. Ayo makan dulu. Hari ini ada tempe sama kerupuk kesukaan kamu.” Ajak ibu.
            “Iya, bu.” Jawabku.
            Alhamdulillah. Menu makanan hari ini sangat istimewa bagi kami. Jarang-jarang kami bisa makan dengan lauk tempe sama kerupuk. Biasanya Cuma nasi ama garam atau kecap saja. Mungkin hari ini pendapatan kita sedang mencukupi. Tidak seperti biasanya.
            Ditengah-tengah kita makan, tiba-tiba terdengar suara orang yang mengetuk pintu gubug sederhana kami. Tak pernah kami kedatangan tamu sebelumnya. Biasanya yang datang adalah orang yang mau nagi hutang. Kemudian ibu menyuruhku untuk membuka pintu. Setelah aku membuka pintu, ternyata yang datang adalah Riko bersama orang yang memanggilnya dari mobil pulang sekolah kemarin yang ternyata ia adalah ayahnya Riko.
            “Mari-mari, silahkan masuk!” kataku.
            “Mari, pak. Silahkan duduk. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya sehingga bapak berkunjung ke tempat kami?” tanya bapak.
            “Iya, terima kasih. Sebelumnya perkenalkan nama saya Burhan dan ini anak saya si Riko. Tujuan pertama kita datang kemari adalah ingin bersilaturahmi dengan keluarga ini. Lalu yang kedua, setelah mendengar cerita anak saya tadi, hati saya terketuk untuk membantu keluarga ini. Kami berniat untuk menyekolahkan anak bapak dan ibu. Jadi bagaimana, pak? bu?” jelas Pak Burhan.
            “Maaf, pak. bapak serius?” tanya bapak penasaran.
            “Iya. Saya serius, pak. InsyaAllah saya akan menyekolahkan anak ibu hingga sampai perguruan tinggi nanti.” Jawab Pak Burhan.
            “Ya Allah. Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Terima kasih, pak. kami tidak tahu caranya bagaimana kami membalas kebaikan bapak. Hanya do’a kata terima kasih yang bisa kami berikan kepada bapak. Sekali lagi terima kasih, pak. Semoga Allah membalas segala amal kebaikan bapak. Amiin.” Kata bapak sambil berjabat tangan dengan Pak Burhan.
            “Iya, pak. Amiin. Kami senang bisa membantu bapak. Mulai besok, anak bapak sudah bisa masuk sekolah. Ini seragam dan perlengkapan sekolah untuk anak bapak.” Jawab Pak Burhan.
            “Terima kasih banyak, pak. Terima kasih.” Kata bapak.
            “Iya, pak. Berhubung hari sudah mulai sore, kami mohon undur diri, pak. Semoga kita bisa berjumpa di lain waktu.” Pamit Pak Burhan.
            “Iya, pak. Terima kasih atas kujungan dan bantuannya. Maaf kami tidak bisa menjamu bapak seperti layaknya seorang tamu.” Jawab bapak.
            Pak Burhan akhirnya pulang dan meninggalkan tempat kami. Ia telah memberikan sejuta kebahagiaan untuk kami. Ia telah mewujudkan mimpiku selama ini. Terima kasih Pak Burhan.
            “Akhirnya mimpimu bisa terwujud, nak. Kamu besok sekolah.” Kata ibu sambil mengelus rambutku dan terlihat air mata jatuh dari pancaran mata indahnya.
            “Iya, bu. Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa sekolah.” Jawabku sambil tersenyum bahagia.
            Cahaya kebahagiaan tampak terpancar di raut muka keluarga kecilku nan sederhana ini. Dengan segala perjuangan dan do’a yang tak henti, akhirnya impianku bisa terwujud. Sungguh bahagianya diriku. Besok aku sudah bisa sekolah. Seakan aku tak percaya dengan semua ini. Semua tampak fana seperti halnya aku sedang bermimpi, namun ini adalah sebuah kenyataan. Aku senang sekali.
            Keesokan harinya, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kelas untuk mendapatkan berbagai ilmu yang akan disampaikan oleh guruku nanti. Aku bertemu dengan teman-teman baru yang begitu baik menyambutku. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena tak semudah yang kita kira untuk mewujudkan sebuah mimpi. Butuh perjuangan dan kesabaran dalam menggapainya. Terus semangat dan tak mudah menyerah adalah kuncinya. Jangan pernah takut untuk mengejar dan meraih mimpimu meskipun badai besar menerpa dan menghempaskan dirimu. Kamu harus bisa melewati semua rintangan itu hingga akhirnya kamu mendapatkan buah dari perjuangan dan kerja kerasmu.

Saturday, 17 September 2016

REFORMASI KEMBAR KOTA PINTAR



            Kukkuruyuuuuuukk.... suara alarm yang yang berbunyi nyaring seperti pemilik suara aslinya. Sontak Meta dan Mita terbangun dari tidur lelap yang membawanya berkelana semalaman. Mereka segera bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas mempersiapkan jiwa raganya untuk menghadapi hari yang panjang dan penuh rintangan. Meskipun hari ini seharusnya libur, tetapi tak ada pengaruhnya bagi kedua pelajar ini. Bagi mereka, libur tak menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Justru ini adalah kesempatan untuk mengembangkan dan mewarnai hidup mereka dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat selain di sekolah.
            Meta dan Mita terlahir dari pasangan suami istri yang cukup mapan dari segi ekonomi. Meskipun hidup serba kecukupan, akan tetapi mereka sama sekali tak mau membebani dan hanya bisa meminta-minta kepada kedua orang tuanya seperti anak-anak orang kaya lainnya. Kehidupan mereka begitu sederhana, tak sungkan berbaur dengan para warga sekitar yang status sosialnya jauh di bawah mereka. Anak kembar ini sejak kecil memang telah di didik untuk mandiri dan membiasakan diri hidup sosial.
            Seperti hari-hari libur sebelumnya, Meta dan Mita selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Biasanya mereka jalan-jalan menyusuri sudut-sudut kota. Hingga akhirnya perjalanan mereka akan bermuara di sebuah taman dekat alun-alun Kota Riang ini. Mereka akan beristirahat sambil menghirup udara segar disana. Sejenak menjernihkan pikiran dan menghilangkan kejenuhan selama satu minggu lalu.
            Setelah menunaikan kewajibannya menjalankan sholat subuh, mereka segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan rutinitas mereka. Sepatu, kaos kaki, lengkap dengan pakaian olahraga telah melekat di tubuh mereka. Tak ketinggalan, meskipun olahraga tetapi mereka tetap mengenakan jilbab sebagai penutup aurat. Kedua anak ini memang terkenal sangat religius. Beberapa saat kemudian, mereka berpamitan dengan kedua orang tuanya dan segera berangkat jalan-jalan keliling kota.
            “Pak? Bu? Kita izin jalan-jalan dulu, ya.” Kata Meta.
            “Iya, nak. Kalian hati-hati ya. Jaga diri baik-baik.” Jawab Ayah.
            “Siap, pak. Assalamu’alaikum”. Sahut Meta dan Mita serentak sambil kemudian mereka bersalaman dengan kedua orang tuanya.
            “Wa’alaikumsalam.” Jawab Ayah dan Ibu serentak sambil memberikan senyum kasih sayangnya kepada kedua buah hati mereka.
            Meta dan Mita terlihat begitu ceria hari ini. Pagi yang cerah telah membawa kesejukan luar biasa di hati mereka. Udara masih terasa segar karena belum banyak kendaraan bermotor yang melintas. Hanya terlihat beberapa tukang sayur yang melintas mengayuh sepeda menjajakan barang dagangannya.
            “Coba tiap hari kaya gini ya, Met. Pasti kita gak akan pernah jenuh tinggal di kota ini.” Kata Mita.
            “Iya, ya.... enak banget kalau tiap hari kaya gini. Menghirup udara segar dan bisa merasakan indahnya pagi hari seperti di alam pedesaan tanpa harus ke kampung.” Sahut Meta.
            Dalam perjalanan mereka melihat beberapa anak-anak yang tengah sibuk melakukan kegiatan. Entah apa yang mereka lakukan disana. Mereka hanya lalu lalang kesana-kemari sambil membawa karung yang lusuh ditangannya. Hanya sesekali diantara mereka terlihat sedang mengorek-orek tempat sampah dan mengambil beberapa isi didalamnya yang kemudian dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya.
            Ironis memang. Anak sekecil itu sudah harus bangun pagi-pagi untuk mencari nafkah. Entah kemana orang tuanya. Sengaja menyuruh mereka atau memang menelantarkan mereka atau justru mereka sendiri yang mempunyai keinginan untuk membantu kehidupan keluarga mereka. Padahal mereka seharusnya masih di rumah menunggu sarapan dan mendapat kasih sayang orang tuanya.
            Terkadang Meta dan Mita juga merasa miris melihat keadaan di Kota Riang ini. Banyak anak-anak yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah justru harus kerja keras membanting tulang demi sesuap nasi untuk melanjutkan sisa hidupnya. Kebanyakan dari mereka adalah bukan penduduk asli kota ini, tetapi para pendatang yang ingin mengadu nasib sambil berharap bahwa kehidupan mereka akan terangkat dan tercukupi disini. Namun pada kenyataanya tak seperti yang mereka harapkan. Bahkan sebagian besar dari mereka semakin kesulitan untuk mempertahankan hidupnya.
            Tak terasa mereka telah sampai di pelabuhan tempat kesukaan mereka, yaitu di taman kota. Suasana sejuk menyapa kedatangan mereka. Nampak berjuta keceriaan tersirat di wajah cerah mereka. Meskipun kali ini mereka tak sebahagia seperti hari-hari sebelumnya. Ekspresi wajah mereka menunjukkan bahwa mereka sedang memikirkan sesuatu hal. Entah apa itu. Kemudian setelah mereka menemukan tempat duduk yang cocok, mereka mulai berbincang-bincang membicarakan sesuatu yang telah dipikirkan sejak di perjalanan tadi.
            “Kasihan ya, Met, Anak-anak tadi. Aku jadi kepikiran sama mereka.” kata Mita.
            “Iya. Aku gak bisa bayangin kalau aku ada di posisi mereka.” jawab Meta.
            “Emmmmb... Gimana ya caranya supaya mereka gak kaya gitu lagi? Supaya mereka bisa menikmati masa kecilnya. Menunaikan kewajibannya untuk menuntut ilmu dan bermain. Belajar dan terus belajar demi masa depan cerah mereka.” kata Mita.
            “Bentar. Bentar. Mari kita coba berfikir.” Jawab Meta.
            “Aku punya ide, Met. Gimana kalau kita membuat perpustakaan untuk mereka. Supaya mereka bisa belajar tanpa harus mengenakan seragam sekolah.” Kata Mita menuangkan idenya.
            “Bagus itu. Aku suka gagasanmu itu. Tapi????” tanggapan Meta sedikit bingung.
            “Tapi kenapa, Met?” tanya Mita.
            “Tapi apa mereka mau meluangkan waktunya untuk membaca? Terus, apakah mereka sudah bisa membaca? Kan dalam benak mereka hanya ada bekerja dan terus bekerja.” Jawab Meta.
            “Pasti mau. Kita buat perpustakaan kita semenarik mungkin supaya mereka tertarik dan berminat untuk membaca. Tentunya kita harus mengajak dan membujuk mereka. Kan kalau udah siang mereka suka berkumpul dan istirahat sejenak. Nah.. Pada saat itulah kita bertindak. Kalau pun diantara mereka ada yang belum bisa baca, kita kan bisa ajari mereka. Gimana, Met? Ok, gak??” jelas Mita.
            “Ok deh. Aku setuju. Setuju-tuju malah. Haha.. Terus dananya dari mana, Mit? ” jawab Meta sambil tertawa.
            “Pakai uang tabungan kita aja. Terus kekurangannya kita minta sama ayah. Pasti beliau setuju. Kan kita ga pernah minta yang aneh-aneh selama ini.” Jawab Mita.
            “Emmmb.... boleh juga. Tumben kamu cerdas hari ini. Haha...” ejek Meta.
            “Siapa lagi? Mita gitu loh. Haha... Nanti kita coba tanya ke ayah deh.” Sahut Mita.
            Kemudian mereka kembali melanjutkan jalan-jalan pagi mereka. Namun kali ini tidak menyusuri jalan kota, melainkan mengelilingi alun-alun Kota Riang mereka tercinta ini. Sejenak mereka singgahi beberapa tempat disana. Mulai dari taman bunga, taman bermain, hingga patung-patung disana pun turut mereka jajahi. Tak ketinggalan, kemana pun mereka pergi pasti membawa kamera. Jadi ya pasti juga mereka berfoto-foto ria. Sudah hobi mereka sejak kecil memang. Sudah gak heran lagi kalau kemana-mana selalu mengabadikan momen spesial mereka. Bahkan terkadang gak istimewa pun mereka tangkap dengan jepretan lensa kamera.
            “Udah siang nih, Met. Pulang yuk.” Ajak Mita.
            “Ayuk. Aku juga udah capek banget.” Jawab Meta.
            Tidak seperti berangkatnya tadi, kali ini mereka memutuskan untuk naik kendaraan umum. Lebih tepatnya bus kota. Mungkin kedua kaki mereka sudah tidak mampu lagi menapaki jalan berselimutkan aspal yang mulai memanas.
            Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di istana sederhana mereka. Ya, meskipun mereka dikenal sebagai orang yang mampu, namun mereka selalu hidup sederhana. Bahkan rumah mereka pun seakan tak menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga konglomerat. Sesampainya di rumah, mereka segera mandi dan bersiap untuk sarapan pagi. Sebenarnya mereka bisa membeli saat di alun-alun tadi, tapi nyatanya mereka lebih suka masakan ibunya sendiri daripada masakan orang lain.
            Hidangan telah bersiap untuk di santap dan di nikmati. Mereka seakan mengantri menunggu giliran untuk dimakan. Setelah semuanya berkumpul, mereka segera melahap hidangan yang telah tersedia. Nampak kehangatan dan kebahagiaan tersirat dari keluarga kecil ini. Sesekali mereka bercanda dan saling meluapkan apa yang ada dalam pikirannya masing-masing. Tak ada rasa sungkan yang muncul dari dalam diri mereka. Semua saling terbuka dalam segala hal.
            “Yah.. Ayah...?” panggil Meta dengan manja.
            “Iya. Ada apa, nak?” jawab ayah pelan.
            “Emmmb... Kami boleh minta sesuatu gak ama ayah? Kan selama ini kami gak pernah minta apa-apa ke ayah. Jadi, boleh lah... sekali ini aja...” pinta Meta.
            “Iya. Emang kalian mau apa? Notebook baru? Atau smartphone baru?” tanya ayah.
            “Bukan itu, yah. Jadi gini, sebenarnya kita mau minta bantuan ayah untuk membangun perpustakaan di sekitar sini. Kira-kira ayah bersedia ga?” jawab Mita.
            “Loh? Emang buat apa? Apa lemari buku kalian sudah tidak muat lagi?” tanya ayah penasaran.
            “Jadi, tadi pagi kita kan olahraga. Terus di jalan kita menemukan banyak anak-anak yang seharusnya masih sekolah tapi sudah dituntut untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Nah.. Maka kami kepikiran untuk membuat perpustakaan supaya disela-sela waktu istirahat, mereka bisa belajar di perpustakaan. Meskipun tidak seperti di sekolah, tapi setidaknya mereka kan bisa menambah ilmu pengetahuan untuk masa depan mereka. Gimana, yah? Setuju gak? Kan kasihan mereka.” jelas Mita.
            “Owch... gitu... Ayah gak nyangka kalian bisa berfikir sejauh itu. Oke. Ayah akan bantu. Kebetulan rumah teman ayah di dekat alun-alun kota Riang itu mau di jual. Jadi gimana kalau rumah itu kita jadikan perpustakaan saja? Besok ayah akan coba hubungi teman ayah.” Kata ayah.
            “Makasih, ayah. Ayah emang paling keren.” Puji Meta.
            “Ibu gak keren?” sahut ibu.
            “Hehe.. Ibu juga keren. Kami sayang Ayah dan Ibu.” Jawab Meta dan Mita serentak.
            Keesokan harinya ayah memberi informasi bahwa rumah temannya dijual dan telah ayah beli. Sontak Meta dan Mita sangat gembira dengan kabar tersebut. Tanpa pikir panjang lagi mereka ingin segera menuju kesana untuk melihat dan mengubah rumah tersebut menjadi sebuah perpustakaan. Namun sayangnya mereka baru bisa kesana satu minggu lagi, karena mereka tidak punya waktu kecuali hari minggu atau hari libur. Mereka memang tergabung di beberapa organisasi disekolahnya dan juga selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan organisasi-organisasi tersebut sehingga hampir tiap hari mereka pulang sore karena kesibukannya masing-masing.
            Hari yang ditunggu telah tiba. Kemudian mereka bergegas untuk pergi ke rumah itu. Sesampainya disana mereka segera berfikir untuk mendekor ulang rumah tersebut hingga menjadi sebuah perpustakaan yang nyaman dan menarik. Seharian mereka menata rumah tersebut. Hingga akhirnya sesaat sebelum matahari terbenam di ufuk barat mereka telah berhasil menyulap sebuah rumah biasa tersebut menjadi sebuah perpustakaan yang siap menerima kunjungan dari para pencari ilmu.
            Satu minggu kemudian mereka sangat senang sekali. Hari ini adalah hari pertama perpustakaan mereka buka. Pagi-pagi sekali mereka telah bersiap menunggu pengunjung pertama. Perpustakaan ini tidak hanya untuk para anak-anak jalanan, tetapi untuk umum. Ya meskipun perpustakaan ini kecil, tapi koleksi buku-bukunya cukup lengkap dan terbaru.
            Tak hanya diam di tempat, mereka juga mencari target utama mereka, yaitu para anak-anak yang kurang beruntung itu. Mereka mulai menghampiri anaak-anak itu dan kemudian mengajak mereka untuk ke perpustakaan. Meta dan Mita cukup lihai dalam merayu mereka.
            “Lagi pada ngapain, dek?” tanya Meta sambil tersenyum.
            “Lagi istirahat, kak” jawab anak-anak itu.
            “Ohh... Emang kalian gak sekolah, dek?” tanya Mita.
            “Enggak, kak. Boro-boro sekolah. Makan aja susah, kak.” Jawab salah satu anak.
            “Kalian mau gak belajar di perpustakaan kakak? Tanya Meta lagi.
            “Males, kak. Buat apa kita belajar. Paling hidup kita juga gini-gini aja.” Jawab mereka.
            “Loh.. kog gitu. Belajar itu kan demi masa depan kita juga. Siapa tahu kalian nanti jadi orang yang sukses. Beneran gak mau?” bujuk Mita.
            “Enggak ah. Mending kita cari duit aja.” Jawab mereka.
            “Ya udah kalau gak mau. Tapi jangan nyesel ya.” Tegas Meta.
            “Tunggu, kak. Saya mau.” Jawab salah seorang anak.
            “Oh ya.. Mari kalau gitu, ikut kakak. Untuk yang lain kalau mau, silahkan langsung datang ke perpustakaan kakak di deket alun-alun. Kakak balik dulu ya. Makasih atas waktunya.” Kata Mita.
            Perlahan mereka mulai meninggalkan tempat itu. Kemudian mereka berjalan menuju ke perpustakaan bersama seorang anak yang ingin belajar tadi. Dalam perjalanan anak itu menceritakan tentang dirinya. Namanya Tebe. Ia hampir seumuran dengan Meta dan Mita. Ia adalah korban dari perpecahan sebuah keluarga. Kini ia tinggal bersama ayahnya. Sedangkan ibunya pergi entah kemana. Sebenarnya dulu ia pernah mengenyam bangku sekolah, tapi akhirnya putus di tengah jalan karena hal tadi. Ayahnya tidak mampu menyekolahkannya lagi karena uangnya habis untuk berobat. Ayahnya tengah menderita sakit diabetes dan sudah tidak bisa pergi kemana-mana lagi, sehingga Tebe harus bekerja untuk menyambung kehidupan dia dan juga ayahnya.
            Tebe tampak bersemangat sekali dalam belajar. Sesekali Meta dan Mita memberikan motivasi kepadanya. Setiap minggu ia selalu menyempatkan diri untuk datang ke perpustakaan ini. Bahkan kini ia tak sendiri lagi. Ada saja yang anak lain yang ikut bersamanya. Tampaknya anak-anak yang lain juga mulai tertarik dan mengikuti jejak Tebe.
            Tak terasa dua tahun sudah perpustakaan ini berdiri. Tidak hanya hari minggu saja, tapi kini setiap hari buka. Meta dan Mita telah menyerahkan sepenuhnya perpustakaan ini kepada Tebe jika mereka tengah sibuk. Tebe telah diangkat sebagai pegawai tetap disini. Kini ia tak perlu lagi pergi kesana kemari untuk mencari botol bekas. Tiap bulan ia mendapat gaji dari pekerjaan barunya ini. Lumayan lah untuk menghidupi keluarganya. Bahkan kini ia dan ayahnya telah memiliki tempat tinggal yang jauh lebih layak. Ayah Meta dan Mita yang memberikan rumah kepada keluarga Tebe.
            Semakin lama, perpustakaan ini makin menjadi-jadi. Hampir semua orang di Kota Riang ini pernah berkunjung ke perpustakaan sederhana ini. Telah banyak orang-orang yang sukses gara-gara membaca buku dari sini. Tempat ini turut membantu mereka untuk menjadi orang yang berguna. Mulai dari pelajar hingga mahasiswa pun telah merasakan manfaatnya.
            Perpustakaan ini telah membawa pengaruh yang besar bagi Kota Riang. Dari yang sebelumnya buta huruf jadi melek huruf. Dari yang sebelumnya males baca jadi kecanduan membaca. Dari yang sebelumnya belum tahu menjadi tahu. Hingga akhirnya kota ini dijuluki sebagai kota baca. Telah banyak penghargaan yang diroleh perpustakaan ini. Mulai dari lokal hingga pihak mancanegara pun turut mengapresiasi.
            Puncaknya, beberapa bulan yang lalu Kota Riang dinobatkan sebagai kota pintar oleh pemerintah tepatnya dari kementrian pendidikan. Hal ini tak lepas dari peran serta perpustakaan ini. Meta dan Mita juga terlibat di dalamnya. Mereka adalah sang pelopor. Berawal dari kepedulian hingga akhirnya menjadi sebuah kebanggaan. Tidak hanya mereka dan keluarganya, seluruh warga Kota Riang ini pun merasakan hal yang sama.
            Tak ada yang tak mungkin di dunia yang sebesar dan seluas ini. Semua berawal dari mimpi. Tinggal bagaimana kita berusaha mewujudkan mimpi itu. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Tapi tentunya jalannya berbeda-beda. Ada yang mulus dan juga ada yang bergelombang. Semuanya harus kita hadapi dan jalani dengan keseriusan tanpa takut terjatuh sebelumnya. Karena jika kita takut maka sebenarnya kita telah terjatuh sebelum kita melewatinya. Segala sesuatu juga tidak ada yang instan dan langsung besar. Semuanya pasti berawal dari hal kecil seperti halnya tumbuhan. Dari sebuah biji, bisa tumbuh menjadi pohon yang besar kokoh berdiri. Seperti halnya pohon pula yang dapat di manfaatkan menjadi perabot dan bahan bangunan setelah ia di tebang dan mati. Kita juga butuh pengorbanan dalam memperjuangkan serta mewujudkan apa yang kita impikan.