Cari

Tuesday, 27 September 2016

PEROLEHAN MEDALI SEMENTARA PON XIX JAWA BARAT 2016

KLASEMEN PEROLEHAN MEDALI PON XIX JABAR 2016

28 September 2016 pukul 06.00 WIB


Emas Perak Perunggu TOTAL

TABRAKAN CINTA




            Mentari pagi pancarkan sinar lurus menembus jendela kamar Dini. Membuka mata setelah tertidur habis subuh tadi. Dini seakan tak mau berpisah dengan selimut dan tempat tidurnya. Ia ingin menghabiskan hari libur ini bersamanya. Seketika ia teringat kalau hari ini ia ada janji dengan teman dekatnya Andin untuk lari pagi di taman. Dengan wajah lusuh, segera saja ia membersihkan tempat tidur dan ganti baju. Sebelum berangkat tak lupa ia berpamitan dengan orang tuanya.
            “Bu? Dini berangkat ya?” izin Dini.
            ”Berangkat kemana, Din? Hari ini kan Minggu.” jawab ibu.
            “Mau jalan-jalan sama Andin di taman, bu. Ayah kemana?” jelas Dini.
            “Owch... Ya sudah. Kamu hati-hati. Ayah masih tidur dari habis subuh tadi. Capek mungkin.” jawab ibu.
            “Ya udah. Dini berangkat, bu. Assalamu’alaikum.” pamit Dini.
            “Wa’alaikumussalam. Salam buat Andin ya?” jawab ibu.
            “Iya, bu.” kata Dini sambil berlari keluar rumah.
            Sesampainya di taman, Dini segera mencari-cari keberadaan Andin. Ternyata ia sedang duduk di bawah pohon. Dini bergegas menghampirinya.
            “Hai, An. Udah lama?” tanya Dini.
            “Kamu kemana aja sih? Dari tadi ditungguin gak nongol-nongol.” jawab Andin.
            “Maaf, An. Aku tadi habis subuh ketiduran, terus jadi telat deh bangunnya.” jelas Dini.
            “Iya, gak apa-apa. Ayo jalan?” ujar Andin.
            “Ayo.” jawab Dini.
            Mereka mulai berlari-lari kecil keliling taman. Mereka begitu menikmati udara segar disini. Memang sudah lama mereka tak berkunjung kesini.
            Dalam perjalanan mereka begitu asyik mengobrol hingga tidak terlalu memperhatikan jalan. Beberapa kali mereka tersandung. Tapi tetap saja masih diulang seperti tidak ada kapoknya. Tiba-tiba Dini menabrak seseorang.
            “Aduh! Hati-hati dong kalau jalan. Main tabrak aja.” kata orang itu.
            Dini terdiam tanpa kata terucap dari mulutnya. Ia hanya terbelalak melihat orang itu. Ia menatap mata orang itu seakan terpesona akan ketampanannya.
            “Hey? Bangun!” kata orang itu.
            “Iya, mas. Maaf? Maaf? Saya gak sengaja. Maaf ya, mas?” mohon Dini.
            “Iya, gak apa-apa. Lain kali hati-hati. Jangan nabrak lagi.” maaf orang itu.
            Kemudian laki-laki itu pergi melanjutkan perjalanannya. Begitupun dengan Dini dan Andin. Di perjalanan, Dini masih kepikiran cowok yang di tabraknya tadi. Ia senyum-senyum sendiri gak jelas. Hatinya begitu berbunga-bunga. “Apakah aku jatuh cinta?” pikirnya.
            “An? Kamu kenal cowok tadi?” tanya Dini.
            “Iya. Kenapa? Dia kan kakak kelas kita. Ganteng kan? Kamu naksir ya?” ejek Andin.
            “Apaan sih? Udah siang nih. Ayo pulang?” jawab Dini mengalihkan perhatian.
            “Kamu ini. Ayo.” kata Andin.
            Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena matahari sudah mulai menyengat badan. Di perjalanan ia masih kepikiran dengan pria tampan yang ditabraknya tadi. Dini merasakan ada yang berbeda. Ia merasakan kenyamanan dan ketenteraman dalam hatinya ketika memandang mata laki-laki itu. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin ini cinta pertamanya. Esok ia berencana menemui pria itu. Ia tak mau melewatkan cinta pertamanya begitu saja. “Semoga ia merasakan yang sama.” Begitu pikir Dini.
            Cinta itu sederhana. Bisa datang kapan dan dimana saja. Dengan bagaimanapun caranya. Datang dan pergi sesuka hati secara tiba-tiba. Tak dinyana-nyana dan tak disangka-sangka. Cinta bisa berawal dari pandangan mata, getarkan jiwa turun ke hati. Cinta bukan untuk permainan, tapi cinta untuk menumbuhkan kasih sayang hingga timbul keseriusan dan kenyamanan.

Mahasiswa Baru Tidak Bisa Beradaptasi dan Meninggal???

          Fenomena mahasiswa baru akhir-akhir ini memang sangat marak sekali. Mengingat saat ini tengah memasuki tahun ajaran baru. Berbagai universitas di Indonesia memang tidak bersamaan dalam memulai masa perkuliahan, namun kebanyakan dari mereka hampir bersamaan.

          Para mahasiswa baru tak hanya dari kota sendiri dimana suatu universitas berdiri itu saja, namun juga dari beberapa daerah diluar domisili instansi pendidikan tersebut. Apalagi bila memang lembaga pendidikan tersebut sudah terkenal dan diakui kualitasnya baik nasional maupun internasional. Dengan begitu akan semakin banyak peminatnya, bahkan hingga dari luar negeri pun ada yang ingin menempuh pendidikan di tempat tersebut.

          Beberapa mahasiswa mungkin dengan mudah dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun tentunya ada juga yang sulit menyesuaikan. Hal ini dapat menyebabkan mereka sulit untuk mengatur kehidupan mereka. Bagaimana mereka mengatur waktu untuk kuliah, belajar, mengerjakan tugas, atau bahkan hingga mereka tidak memperhatikan pola makannya.

          Berbicara tentang pola makan tentunya sangat penting. Mengingat kodrat kita sebagai manusia yang membutuhkan asupan energi yang pastinya berasal dari makanan. Namun acap kali hal ini lalai dari perhatian mahasiswa baru bahkan juga mahasiswa lama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kasus ini terjadi, yaitu karena memang jadwal yang padat dalam keseharian mereka sehingga manajemen waktu tidak terkoordinir dengan baik atau disebabkan oleh tidak mampunya adaptasi terhadap lingkungan sekitar yang membuat mereka malas untuk sekedar pergi keluar mencari makan. Hal ini biasanya terjadi pada mahasiswa baru yang baru mengenal lingkungan tersebut.

         Meskipun memang kita tidak akan meninggal karena makan yang tidak teratur atau bahkan tidak makan dalam jangka waktu tertentu. Namun tentunya hal ini sangat mengkhawatirkan dan akan merugikan diri mereka sendiri. Dengan banyaknya aktivitas yang mereka lakukan tentunya akan sangat menguras energi. Jika tidak diimbangi dengan makan yang cukup, hal ini justru akan menyebabkan kegiatan yang mereka lakukan tidak terlaksanan dengan maksimal. Akibat lain yang ditimbulkan dari kebiasaan ini adalah dapat mengganggu kesehatan dalam jangka waktu tertentu karena pengorganisasian dalam tubuh tidak teratur dengan baik seperti pada normalnya.

          Diharapkan para mahasiswa dapat mengatur pola makannya sehingga dapat menunjang kinerjanya dalam menghadapi aktivitas yang padat. Terutama bagi mahasiswa baru juga diharapkan segera mampu beradaptasi dan menyatu dengan lingkungannya agar tidak canggung lagi dengan keadaan sekitar. Selamat berjuang para mahasiswa baru. Sipakan dirimu untuk bangsa ini.

Lirik Lagu "Pelangi Dimatamu"

Tiga puluh menit kita disini tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama kata darimu
Mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini

Jam dinding pun tertawa
Aku hanya diam dan membisu
Ingin kumaki diriku sendiri
Yang tak berkutik didepanmu

Ada yang lain di senyummu
Yang membuat lidahku gugup tak bergerak
Ada pelangi di bola matamu
Dan memaksa diri tuk bilang aku sayang padamu

Aku sayang padamu..........

Mungkin suatu nanti
Ku ungkap semua isi di hati
Dan aku benci harus jujur padamu
Tentang semua ini

Jam dinding pun tertawa
Dan aku hanya diam dan membisu
Ingin kumaki diriku sendiri
Yang tak berkutik di depanmu

Ada yang lain di senyummu
Yang membuat lidahku gugup tak bergerak
Ada pelangi di bola matamu
Seakan memaksa dan terus memaksa

Ada pelangi..........

Ada yang lain di senyummu
Yang membuat lidahku gugup tak bergerak
Ada pelangi di bola matamu
Dan memaksa diri tuk bilang aku sayang padamu

Aku sayang padamu............

Monday, 26 September 2016

Adu Jotos Argumen Debat Perdana Capres AS Hillary vs Trump


         

          Debat capres AS pertama yang dilakukan Clinton dan Trump diselenggarakan di Universitas Hostra di New York. Dimoderatori oleh penyiar NBC, Lester Holt, acara ini diyakini akan memberikan banyak tantangan bagi keduanya dan membuat banyak orang bisa menilai bagaimana kepribadian, filsafat, dan pemikiran mereka. Tentunya, hal ini secara signifikan dapat mempengaruhi suara pemilih dalam pemilu di negara itu.

          Debat pertama kedua kandidat calon presiden AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat, Donald Trump dan Hillary Clinton mengambil topik ekonomi dan diwarnai perdebatan sengit tentang pekerjaan, kesepakatan dagang dan pajak. Debat ini berlangsung selama kurang lebih 90 menit dan menjadi perhatian seluruh mata dan telinga masyarakat di segala sisi dunia ini.

       Debat ini diawali dengan kedua calon pemimpin AS saling berjabat tangan dan kemudian dilanjutkan dengan saling menunjukkan visi mereka dalam bidang ekonomi. Hal inilah yang akhirnya memulai memicu pertarungan sengit diantara mereka. Adu argumen dan saling serang pun tak terelakkan lagi. Perkataan-perkataan yang syarat akan kebohongan dan pemutarbalikan fakta semakin deras keluar dari mulut mereka demi menjatuhkan satu sama lain.
         
        Hillary berkata pada Trump, “Apa kabar, Donald?” disambut riuh sorakan penonton.

       Serangan pertama Clinton pada Trump menyebut bahwa dia menerima uang dari ayahnya saat pertama mengawali bisnisnya namun menggambarkan dirinya dan latar belakangnya sebagai kelas menengah.

      “Donald sangat beruntung dalam hidupnya, dan itu semua keuntungannya,” katanya. “Dia meminjam $40 juta dari ayahnya, dia benar-benar percaya bahwa jika Anda membantu orang kaya, Anda akan lebih baik.”

        Trump membalas dan mengatakan, “ayah saya memberi saya pinjaman kecil pada tahun 1975 dan saya mendirikan perusahaan yang bernilai miliaran dolar".
          
   Begitulah seterusnya hingga mereka menyelesaikan pertarungannya di panggung pentas ini. Tak henti-hentinya mereka saling merendahkan satu sama lain dengan kata-kata yang disamarkan tentunya. Mereka tampak begitu beringas dan bernafsu menyerukan argumen yang dapat menjatuhkan lawannya.

TERPAAN BADAI KEHIDUPAN



              Hari yang cerah di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk ramainya perkotaan. Aktivitas pagi sudah mulai dikerjakan para penduduk. Meskipun di desa, tetapi kegiatan disini tak kalah sibuknya dengan di kota. Berbeda dengan di kota yang pergi ke kantor dengan pakaian rapi. Disini mereka sibuk megurusi sawahnya masing-masing. Tanpa seragam yang wangi. Hanya pakaian sederhana yang lusuh dan penuh bercak getah dan lumpur.
            Terlihat seorang pemuda yang sedang duduk di depan rumah. Orang-orang kerap memanggilnya Udin. Ia hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya pergi merantau ke Kalimantan demi mencukupi kehidupan mereka. Mereka memang tak mempunyai sawah atau ladang seperti lainnya. Dulu memang punya. Tapi sekarang tidak ada karena sudah habis terjual untuk biaya pengobatan Udin.
            Waktu masih kecil, Udin sakit keras. Awalnya memang cuma demam, tapi karena tak segera ditangani akhirnya menjadi semakin parah dan fatal akibatnya. Sejak saat itu Udin mengalami kelumpuhan. Kedua kakinya tidak bisa merasakan apa-apa hingga ia tak bisa berjalan lagi. Ia kehilangan masa kecil bahagianya. Kesehariannya ia cuma mendapatkan cemoohan dari teman-temannya.
            Begitu banyak cobaan yang menimpanya. Mulai dari kemiskinan yang mendera hingga penyakit yang harus dideritanya. Semua itu dilaluinya dengan begitu luar biasa. Ia selalu pasrah dan berserah diri kepada yang kuasa. Baginya semua ini adalah takdir yang harus dihadapi dan dijalani dengan sepenuh hati. Tak ada kata putus asa baginya. Ia begitu semangat dalam menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya. Ia tak pernah menyalahkan siapa-siapa.
            Dengan keadaannya yang seperti itu, ia tak berpangku tangan begitu saja kepada orang tuanya. Ia tak mau menyusahkan orang lain terutama dua orang yang telah membesarkan dan merawatnya hingga saat ini. Ia selalu berusaha menemukan bagaimana caranya supaya ia bisa berguna bagi orang lain dengan kondisinya yang kurang memungkinkan. Sungguh mulia cita-citanya.
            Berawal dari ajaran pamannya, kini ia sangat mahir dalam membuat kerajinan dari barang bekas. Produknya cukup di kenal dan digemari masyarakat. Sehari ia bisa menyelesaikan beberapa karyanya. Ibunya yang menjual hasilnya ke pasar. Terkadang konsumen rela datang jauh-jauh demi mendapatkan hasil karyanya. Meskipun tak seberapa, namun ia mampu membantu orang tuanya dalam memenuhi kehidupan sehari-hari mereka.
            Tak pernah ada rasa lelah yang muncul dari dalam dirinya. Ia seorang yang gigih dan anti putus asa dalam menjalani hidup. Tak pernah sekalipun ia menoleh atau bahkan mundur ke belakang. Langkahnya tegas dan berani tak pernah ada ragu-ragu sedikit pun. Selalu bersyukur dan berjuang menghabiskan sisa hidup dengan suatu hal yang berguna. Baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
            Bukan hal yang mustahil, ia akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Semangat yang membara dan kemauan kerasnya akan membawa pada kesuksesan yang tak pernah terduga sebelumnya. Dalam segala keterbatasan yang dideritanya, ia mampu berkarya dan terus berkarya. membuktikan bahwa ia mampu dan tak selayaknya diremehkan dan dipandang sebelah mata. Ia menginspirasi banyak orang dengan apa yang ia lakukan. Hal kecil bisa menjadi besar ketika ada kemauan keras untuk mewujudkannya. Sekecil apapun itu pasti bisa. Selalu yakin pada sang kuasa.
            Tak ada yang tak mungkin di dunia yang sebesar dan seluas ini. Semua berawal dari mimpi. Tinggal bagaimana kita berusaha mewujudkan mimpi itu. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Tapi tentunya jalannya berbeda-beda. Ada yang mulus dan juga ada yang bergelombang. Semuanya harus kita hadapi dan jalani dengan keseriusan tanpa takut terjatuh sebelumnya. Karena jika kita takut maka sebenarnya kita telah terjatuh sebelum kita melewatinya. Segala sesuatu juga tidak ada yang instan dan langsung besar. Semuanya pasti berawal dari hal kecil seperti halnya tumbuhan. Dari sebuah biji, bisa tumbuh menjadi pohon yang besar kokoh berdiri. Seperti halnya pohon pula yang dapat di manfaatkan menjadi perabot dan bahan bangunan setelah ia di tebang dan mati. Kita juga butuh pengorbanan dalam memperjuangkan serta mewujudkan apa yang kita impikan.